Pedoman / Juknis BOS 2011


Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar. Namun demikian dana BOS dimungkinkan untuk membiayai beberapa kegiatan lain yang tergolong dalam biaya personalia dan biaya investasi.

Latar Belakang BOS

  • UU No 20 tentang Sisdiknas: Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
  • Wajib Belajar 9 Tahun telah tuntas dengan APK untuk SMP/sederajat sebesar 98,11%
  • PP No 48 tentang Pendanaan Pendidikan secara jelas menjelaskan jenis pendanaan pendidikan dan tanggung-jawab masing-masing tingkatan

Tujuan BOS

Program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu.
Secara Khusus
  • Menggratiskan seluruh siswa miskin di tingkat pendidikan dasar dari beban biaya operasi sekolah, baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta
  • Menggratiskan seluruh siswa SD negeri dan SMP negeri terhadap biaya operasi sekolah, kecuali pada sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
  • Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta

Sasaran BOS

  • Sasaran program BOS adalah semua sekolah setingkat SD dan SMP (termasuk SMPT), baik negeri maupun swasta di seluruh propinsi di Indonesia.
  • Program Kejar Paket A dan Paket B tidak termasuk sasaran dari program BOS ini.

Biaya Satuan BOS

  • SD/SDLB di kota : Rp 400.000,-/siswa/tahun.
  • SD/SDLB di kab : Rp 397.000,-/siswa/tahun.
  • SMP/SMPLB/SMPT di kota: Rp 575.000,-/siswa/tahun.
  • SMP/SMPLB/SMPT di kab : Rp 570.000,-/siswa/tahun.
Biaya satuan ini sudah termasuk untuk BOS Buku
Jenis Biaya Pendidikan
Menurut PP No 48 Tahun 2008:
  • Biaya Satuan Pendidikan: biaya penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
  • Biaya Penyelenggaraan dan/atau Pengelolaan Pendidikan:biaya penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, atau penyelenggara/satuan pendidikan yang didirikan masyarakat.
  • Biaya Pribadi Peserta Didik:biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

Biaya Satuan Pendidikan

Terdiri dari:
  • biaya investasi adalah biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sdm, dan modal kerja tetap.
  • biaya operasi, terdiri dari biaya personalia dan biaya nonpersonalia.
  • bantuan biaya pendidikan yaitu dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai pendidikannya
  • beasiswa adalah bantuan dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang berprestasi.

Biaya Personalia dan Nonpersonalia

  • biaya personalia terdiri dari gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta tunjangan-tunjangan yang melekat pada gaji.
  • biaya nonpersonalia adalah biaya untuk bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dll.

Sekolah Penerima BOS

  • Semua sekolah SD/SDLB/SMP negeri wajib menerima dana BOS. Bila sekolah tersebut menolak BOS maka sekolah dilarang memungut biaya dari peserta didik, orang tua atau wali peserta didik.
  • Semua sekolah swasta yang telah memiliki ijin operasional yang tidak dikembangkan menjadi bertaraf internasional atau berbasis keunggulan lokal wajib menerima dana BOS.
  • Bagi sekolah yang menolak BOS harus melalui persetujuan dengan orang tua siswa dan komite sekolah dan tetap menjamin kelangsungan pendidikan siswa miskin di sekolah tersebut.
  • Seluruh sekolah yang menerima BOS harus mengikuti pedoman BOS yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
  • Sekolah negeri kategori RSBI dan SBI diperbolehkan memungut dana dari orang tua siswa yang mampu dengan persetujuan Komite Sekolah.
  • Sekolah Negeri yang sebagian kelasnya sudah menerapkan sistem sekolah bertaraf RSBI atau SBI tetap di perbolehkan memungut dana dari orang tua siswa yang mampu dengan persetujuan Komite Sekolah, serta menggratiskan siswa miskin.

BOS dan Wajar 9 Tahun Yang Bermutu

  • BOS harus menjadi sarana penting untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan dasar 9 tahun.
  • Melalui BOS tidak boleh ada siswa miskin putus sekolah karena tidak mampu membayar iuran/pungutan yang dilakukan oleh sekolah.
  • Anak lulusan sekolah setingkat SD, harus diupayakan kelangsungan pendidikannya ke sekolah setingkat SMP. Tidak boleh ada tamatan SD/setara tidak dapat melanjutkan ke SMP/setara dengan alasan mahalnya biaya masuk sekolah.
  • Kepala sekolah mencari dan mengajak siswa SD/setara yang akan lulus dan berpotensi tidak melanjutkan sekolah untuk ditampung di SMP/setara. Demikian juga bila teridentifikasi anak putus sekolah yang masih berminat melanjutkan agar diajak kembali ke bangku sekolah.
  • Kepala sekolah mencari dan mengajak siswa SD/setara yang akan lulus dan berpotensi tidak melanjutkan sekolah untuk ditampung di SMP/setara. Demikian juga bila teridentifikasi anak putus sekolah yang masih berminat melanjutkan agar diajak kembali ke bangku sekolah.
  • BOS tidak menghalangi peserta didik, orang tua, atau walinya memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah

Program BOS dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

  • Sekolah mengelola dana secara professional, transparan dan dipertanggung jawabkan.
  • BOS harus menjadi sarana penting peningkatan pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan akses, mutu dan manajemen sekolah.
  • Sekolah harus memiliki Rencana Jangka Menengah yang disusun 4 tahunan.
  • Sekolah harus menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT) dalam bentuk Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), dimana dana BOS merupakan bagian itegral didalam RKAS tersebut.
  • Rencana Jangka Menengah dan RKAS harus di setujui dalam rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan Komite Sekolah dan disahkan oleh Dinas Pendidikan kab/kota (untuk sekolah negeri) atau yayasan (untuk sekolah swasta). Seluruh peserta rapat ikut menandatangani berita acara persetujuan. Secara rinci diatur dalam Peraturan Mendiknas nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan dasar dan Menengah.
  • BOS tidak menghalangi peserta didik, orang tua, atau walinya memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah

Tanggung Jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah

  • Pemerintah dan Pemerintah Daerahbertanggung jawab terhadap  pendanaan biaya investasi dan biaya operasi satuan pendidikan bagi sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah/pemerintah daerah sampai terpenuhinya  Standar Nasional Pendidikan.
  • Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah/pemerintah daerah menjadi bertaraf internasional, selain dari pemerintah atau pemerintah daerah, pendanaan tambahan dapat juga bersumber dari masyarakat, bantuan pihak asing yang tidak mengikat, dan/atau sumber lain yang sah.
  • Pemerintah dan pemerintah daerah dapat membantu pendanaan biaya non personalia sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Tanggung Jawab Peserta Didik, Orang Tuan dan/atau Wali Peserta Didik

  • Biaya pribadi peserta didik, mislnya uang saku/uang jajan, buku tulis dan alat-alat tulis, dan lain sebagainya.
  • Pendanaan sebagian biaya investasi pendidikan dan/atau sebagian biaya operasi pendidikan tambahan yang di perlukan untuk pengembangan menjadi sekolah bertaraf internasional.

7:55 AM | Posted in , | Read More »

Lakukan Pemerataan Pendidikan


TANJUNG REDEB   -  Dinas Pendidikan Berau akan tetap berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan. Yakni melakukan pemerataan pendidikan baik di perkotaan, bahkan sampai masyarakat pedalaman sekalipun.
Karena pendidikan yang bermutu bisa menjadi kunci sukses menunjang proses pembangunan lainya.
Ini, dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Rohaini, di ruang kerjanya (31/12). Selain itu juga di sampaikan, dengan upaya yang dilakukan Disdik pada 2010 ini memperbaiki sarana dan prasarana penunjang keberhasilan dalam bidang pendidikan, mencakup semua wilayah kabupaten.
Hal ini dianggap kurang untuk menunjang keberhasilan. Untuk itu di masa yang akan mendatang, Disdik terus berupayan untuk melakukan yang terbaik untuk kemajuan pendidikan daerah.
?Itu saja tidak cukup untuk mengembangkan dunia pendidikan di Berau,? katanya.
Untuk mewujudkan kecerdasan dan kualitas para peserta didik, ke depan  merupakan tantangan tersendiri yang harus dilakukan di masa mendatang. Disdik akan melakukan pola pembinaan terhadap tenaga pengajar. Yakni mengikutsertakan para tenaga pendidik dalam berbagai pelatihan sesuai kompetensi.
Dengan mengikutsertakan para tenaga pendidik dalan pelatihan pengajaran masing- masing bidang studi ini, nantinya diharapkan para guru akan lebih memahami materi yang akan di sampaikan kepada para murid.
?Sebagai contoh guru matematika harus benar menguasai materi pelajaran matematika,? katanya.
Adapun pencapaian lain yang menjadi target pada 2011 ini, Disdik berupaya memaksimalkan pembangunan perpustakaan representatif  di setiap sekolah.
Saat ini, dinilainya kurang. Untuk pembangunan perpustakaan di setiap sekolah, tidak perlu dengan suasana mewah. Tetapi untuk pembangunan tersebut,  harus memiliki suasana yang menyenangkan jika para siswa mengujungi perpustakaan.
?Perpustakaan harus mempunyai warna tersendiri yang menimbulkan kesenangan para siswa jika mereka melakukan aktivitas membaca,? ujarnya.
Sedangkan, untuk jumlah tenaga guru yang ada di Berau sampai saat ini tercatat 3.100 tenaga guru termasuk bagi tenaga guru non-Pegawai Negeri Sipil (PNS) di seluruh wilayah Berau. Dia sangat menaruh harapan kepada tenaga guru di perkotaan maupun di pedalaman, selalu memberikan pengajaran terbaik kepada peserta didik.
Caranya melakukan pendekatan secara emosi kepada para siswa. Dengan cara melakukan pola pengajaran tersebut, para siswa lebih memahami materi yang disampaikan.
?Guru jangan menjadi sosok menakutkan bagi siswanya, untuk itu seorang guru harus mempunyai sisi kreatif dalam menyampaikan materi kepada para siswa.? tegasnya.(hms4)

7:52 AM | Posted in , | Read More »

Pendidikan Berbasis Karakter


Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat dinamis, selalu bergerak, selalu terjadi perubahan dan pembaharuan. Sekolah seolah terus berpacu memunculkan dan mengejar keunggulannya masing-masing.
Memasuki Era Globalisasi menjadi satu tantangan tersendiri bagi pengelola pendidikan untuk menyesuaikan kurikulum dan sarana pendidikan mereka dengan berbagai teknologi canggih agar bisa menghasilkan siswa yang mampu bersaing di Era ‘Global Village’.
Ditengah begitu semangatnya berbagai lembaga pendidikan mengejar keunggulan teknologi, terbersit satu pertanyaan, ‘sebesar itu jugakah semangat kita untuk mengejar keunggulan karakter siswa-siswa kita?’
Mengapa Karakter?
Beberapa hadits berikut menunjukkan betapa pentingnya sekolah-sekolah kita untuk memperhatikan masalah pembentukan akhlak pada anak-anak didiknya:
“innama bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq”
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. (HR Malik)
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Sekolah adalah tempat yang sangat strategis bahkan yang utama setelah keluarga untuk membentuk akhlak/karakter siswa. Bahkan seharusnya setiap sekolah menjadikan kualitas akhlak/ karakter sebagai salah satu Quality Assurance yang harus dimiliki oleh setiap lulusan sekolahnya.
Tentunya kita semua berharap siswa-siswi yang dididik di sekolah kita menjadi hamba Allah yang beriman, sebagaimana pemerintah kita mencanangkan dalam Pasal 3 UU No. 20/2003, bahwa:
‘Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab’. Dan sekarang resapilah hadits berikut:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Jika ternyata baiknya akhlak menjadikan sempurnanya iman, maka tidak ada alasan bagi sekolah kita untuk menomor duakan keseriusan dalam upaya pembentukan akhlak/karakter dibanding keseriusan mengejar keunggulan teknologi. Bahkan yakinlah, bahwa jika anak didik kita memiliki akhlak/karakter yang baik, insya Allah merekapun akan lebih mudah kita pacu untuk mengejar prestasi lainnya.
Tak kurang, para peneliti, dan tokoh kelas dunia pun dengan jelas ikut menyuarakan pentingmya masalah pembentukan karakter ini:
Theodore Roosevelt, mantan presiden USA yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).
Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu dari tujuh dosa fatal, yaitu “education without character” (pendidikan tanpa karakter)
Beberapa hasil penelitian dan survey berikut mungkin akan membuat dahi kita berkerut:
90% anak usia 8-16 tahun telah buka situs porno di internet. Rata-rata anak usia 11 tahun membuka situs porno untuk pertama kalinya. Bahkan banyak diantara mereka yang membuka situs porno di sela-sela mengerjakan pekerjaan rumah (Ketua Umum Badan Pengurus Nasional Asosiasi Warung Internet Indonesia, Irwin Day. 25 Juli 2008. Media Indonesia)‏
Herien Puspitasari (Disertasi Doktor IPB), mempublikasikan hasil penelitiannya di Kompas Cyber Media 18/05/2006). Dalam penelitiannya yang dilaksanakan pada tahun 2002-2003, dengan menggunakan responden sejumlah 667 siswa (550 siswa Sekolah Negeri & 117 siswa Sekolah Swasta), 540 putra dan 127 putri, semuanya berasal dari siswa kelas 2 SMA dan SMK di Bogor. Mendapatkan hasil yang mencengangkan: Dari 667 responden tersebut, tidak kurang 10 persen para responden sudah melakukan hubungan seks bebas!
Jumlah pengguna narkoba di lingkungan pelajar SD, SMP, dan SMA pada tahun 2006 mencapai 15.662 anak. Rinciannya, untuk tingkat SD sebanyak 1.793 anak, SMP sebanyak 3.543 anak, dan SMA sebanyak 10.326 anak. Dari data tersebut, yang paling mencengangkan adalah peningkatan jumlah pelajar SD pengguna narkoba. Pada tahun 2003, jumlahnya baru mencapai 949 anak, namun tiga tahun kemudian atau tahun 2006, jumlah itu meningkat tajam menjadi 1.793 anak .
Tentunya masih banyak data dan fakta lain yang bisa kita ungkap. Tapi data-data di atas cukup mewakili bagaimana potret anak usia sekolah di negeri ini.
Menurut Thomas Lickona (1992), tanda-tanda kehancuran suatu bangsa antara lain:
1. Meningkatnya kekerasan dikalangan remaja
2. ketidak jujuran yang membudaya
3. semakin rendah rasa tidak hormat kepada kedua orang tua, guru dan figure pemimpin,
4. meningkatnya kecurigaan dan kebencian
5. penggunaan bahasa yang memburuk
6. penurunan etos kerja
7. menurunnya rasa tanggung-jawab individu dan warga negara
8. meningginya perilaku merusak diri
9. semakin kaburnya pedoman moral.
Jika kita cermati satu persatu tanda-tanda kehancuran di atas, berapa point yang sudah muncul di bangsa kita? Sepertinya kita sepakat bahwa seluruhnya sudah tampak di bangsa kita!
Akankah bangsa kita mengalami kehancuran? Jawabannya adalah ‘YA’ bila bangsa kita tidak melakukan perbaikan. Dan kita para pengelola sekolah dan para pendidik harus ikut melakukan langkah perbaikan. Inilah peran strategis yang harus kita ambil, MELAKUKAN PEMBINAAN AKHLAK UNTUK MENGHINDARKAN BANGSA DARI KEHANCURAN!
Peran Sekolah
“FithrataLlahil latii fatharan naasa ‘alaiha. Laa tabdiila likhalqiLlah.”
“…(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah…” (Ar Rum:30)
“Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun.” (HR Bukhari)
Pendidikan menurut Pasal 1 Butir 1 UU 20/2003: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”
Pengertian Pendidikan Karakter
Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Sedangkan menurut Imam Ghazali karakter adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan fikiran. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Membentuk karakter tidak semudah memberi nasihat, tidak semudah member instruksi, tetapi memerlukan kesabaran, pembiasaan dan pengulangan, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits yang telah dikutip sebelumnya:
“Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun.” (HR Bukhari)
Sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dialami peserta didik sebagai pengalaman pembentukan kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai-nilai ideal agama, nilai-nilai moral.
Pendidikan Karakter pada Sekolah Islam Terpadu (SIT)
Sekolah Islam Terpadu menjadikan pendidikan karakter sebagai pilar utama dalam proses penyelenggaraannya. Oleh karena itu, SIT mengembangkan prinsip-prinsip pendidikan sebagai berikut:
1. Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis.
2. Mengintegrasikan nilai Islam ke dalam bangunan kurikulum.
3. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar.
4. Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik.
5. Menumbuhkan biah solihah dalam iklim dan lingkungan sekolah: menumbuhkan kemaslahatan dan meniadakan kemaksiatan dan kemungkaran.
6. Melibatkan peran-serta orangtua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
7. Mengutamakan nilai ukhuwwah dalam semua interaksi antar warga sekolah.
8. Membangun budaya rawat, resik, rapih, runut, ringkas, sehat dan asri.
9. Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu.
10. Menumbuhkan budaya profesionalisme
Nilai-nilai Islam menjadi inspirasi dan sekaligus pemandu utama dalam penyelenggaraan pendidikan di SIT. SIT meyakini bahwa pendidikan Islam akan mampu:
1. Membentuk sikap dan kepribadian yang kuat berdasarkan prinsip-prinsip nilai keilahiyahan. Dengan aqidah yang benar, seorang muslim akan mampu menunjukkan sikapnya yang tegar, tsabat, istiqomah dan selalu berfihak dan membela al Haq.
2. Memompa semangat keilmuan dan karya. Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu berfikir dan berkarya. Doktrin Islam adalah: ”sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling memberi manfaat bagi orang lain”
3. Membangun karakter/pribadi yang saleh : selalu menegakkan nilai-nilai dan praktek ibadah. Pendidikan agama Islam mendidik dan mendisiplinkan pemeluknya untuk selalu taat beribadah kepada Allah SWT. Dengan perilaku ibadah yang bersih, niscaya akan terbentuk karakter muttaqien, selalu menjauhi perilaku negatif dan destruktif
4. Membangun Sikap Peduli: Islam selalu mengajarkan sikap peduli kepada orang lain, hewan dan lingkungan. Sikap peduli akan melahirkan sikap yang selalu membangun dan memecahkan segala permasalahan sosial.
5. Membentuk pandangan yang visioner, berfikir, bekerja dan bertindak untuk kepentingan masa depan.
Bagaimana menerapkan pendidikan karakter di sekolah?
Menurut Ratna Megawangi, Founder Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap pembentukan karakter:
J MORAL KNOWING : Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus berperilaku baik. Untuk apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik
J MORAL FEELING : Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berperilaku baik. Membentuk karakter adalah dengan cara menumbuhkannya.
J MORAL ACTION : Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan outcome dari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior
Dengan tiga tahapan ini, proses pembentukan karakter akan jauh dari kesan dan praktik doktrinasi yang menekan, justru sebaliknya, siswa akan mencintai berbuat baik karena dorongan internal dari dalam dirinya sendiri.
Masih menurut Indonesia Heritage Foundation, ada 9 pilar karakter yang harus ditumbuhkan dalam diri anak:
1. Cinta Allah, dg segenap ciptaanNya
2. Kemandirian ,tanggung jawab
3. Kejujuran, bijaksana
4. Hormat, santun
5. Dermawan, suka menolong, gotong royong
6. Percaya diri, kreatif, bekerja keras
7. Kepemimpinan, keadilan
8. Baik hati, rendah hati
9. Toleransi, Kedamaian, kesatuan
Tips untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah
Berikut adalah tips untuk sukses menerapkan pendidikan berbasis karakter di sekolah:
— Memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh stake holder sekolah melalui berbagai media : buku panduan untuk orang tua (dan siswa), news untuk orang tua, pelatihan.
— Staf pengajar dan administrasi termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang dianut, Nilai-nilai ini merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang diyakini sekolah.
— Siswa dan guru mengembangkan nilai-nilai yang dianut di kelas masing-masing.
— Memberikan dilema-dilema dalam mengajarkan suatu nilai, misalnya tentang kejujuran.
— Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan
— Mendiskusikan masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran
— Mendiskusikan masalah dengan orang tua apabila masalah dengan anak adalah masalah besar atau masalahnya tidak selesai
Dari semua komponen sekolah, yang paling berperan mensukseskan program pendidikan berbasis karakter di sekolah, adalah GURU. Tentunya diperlukan GURU BERKARAKTER untuk menghasilkan SISWA BERKARAKTER. Meski diperlukan kesabaran dan ketekunan, menghasilkan anak didik yang berakhlak dan berkarakter baik tentunya sangat membahagiakan, karena menjadi penyebab seseorang mendapatkan kebaikan itu lebih baik dari dunia dan seisinya!
Shintawati
Staf dept mutu JSIT Indonesia

7:49 AM | Posted in , | Read More »

Mendidik Anak Meraih Sukses Keluarga


Posisi anak dalam keluarga ada dua. Pertama, sebagai penyambung generasi –lihat QS. Al-Anbiya (21): 89. Sebagai penyambung generasi, anak menjadi pewaris karya yang dihasilkan orang tuanya –lihat QS. 19: 6.—dan penyejuk jiwa orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74. Yang kedua, sebagai pelanjut tugas dan cita-cita orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.

Perlakuan orang tua terhadap anaknya sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang sangat ingin diraih yang diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Karena itu, pastikan Anda tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga.
Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga. Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah swt. menyebebutkan dalam QS. At-Tahrim (66): 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”

Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi sebagai pemimpin orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah makna dari doa yang kita pinta: rabbana aatinaa fiid dunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar. Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di duniah dan kebahagiaan di akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka. Allah swt. berfirman, “Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” [QS. Ali Imran (3): 185]

Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting. Jadikan anak sebagai aset penting untuk meraih sukses keluarga. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.

Ada dua ciri yang menandakan bahwa Anda telah merasakan anak Anda adalah aset penting keluarga, yaitu:
1. Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipan Allah kepada Anda tidak menjadi seperti yang diamanahkan.
2. Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga menjadi sia-sia tidak berguna.
Allah swt. pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita. “Dan hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” [QS. An-Nisa (4): 9]
Di ayat itu juga Allah swt. memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Allah, menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (qaulan sadiidan), dan perbaiki kualitas amal kita (tushlihu’ ‘amal). [Lihat QS. Al-Ahzab (33): 70-71]
Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini terlihat dari ayat itu ditulis Allah swt. dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip ta’awun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam ketakwaan) dan al-mu’minuna wal mu’minaat ba’duhum auliyaa’u ba’d (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain saling bantu-membantu).

Step to step-nya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu, hadirkan untuk anak Anda lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup. Setelah itu, bertawakalah kepada Allah swt. Doakan selalu anak Anda.

Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:
1. Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an
2. Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Allah swt.
3. Menumbuhkan cinta kepada Nabi saw., keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka sebagai sumber panutan dan rujukan hidup
4. Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhai Allah; dan menjadikanya benci terhadap yang dimurkai Allah.
5. Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang.
6. Membekalinya dengan keterampilan hidup.
7. Membekalinya dengan keterampilan belajar.
8. Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sain dan teknologi).

7:40 AM | Posted in , | Read More »

Membangun Karakter Tangguh


Pemilu, pilpres dan pilkada dapat membawa berkah maupun sebaliknya dapat menyebabkan pilu, baik bagi rakyat maupun kontestan kandidat legislatif, calon kepala daerah maupun calon presiden dan pasangannya.
Stres adalah gejala umum yang menghantui para calon legislatif (caleg) dan mantan calon kepala daerah dan calon wapres maupun cawapres yang gagal terpilih. Stres pada tingkatan tertentu dapat mengakibatkan kegilaan dan ketidakwarasan. Hal inilah yang mendorong sejumlah rumah sakit jiwa di pusat dan daerah mempersiapkan ruangan baru untuk menampung korban ambisi jabatan dan pertaruhan politik dengan ketidaksiapan mental menghadapi kekalahan sebagaimana diprediksi banyak pengamat. Mungkin reaksi ataupun antisipasi beberapa rumah sakit jiwa dan para pengamat tersebut terlihat pesimistis, skeptis dan terkesan sinis, namun melihat beberapa pengalaman korban mental kekalahan di beberapa pilkada, bahkan terenggutnya nyawa karena serangan jantung dan bunuh diri akibat kalah pemilu patut mendapatkan perhatian serius dari para kandidat untuk dapat mempersiapkan mental yang kuat dalam menghadapi risiko kekalahan dan gagal terpilih dengan manajemen stres yang baik. Tekanan dan kelapangan jiwa adalah tidak lepas dari manajemen diri dengan kehendak ilahi.

Allah Swt. berfirman: “Bukankah Kami (Allah) telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya kesulitan itu disertai kemudahan, Sesungguhnya kesulitan itu disertai kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmu lah hendaknya kamu berharap”. (QS. Al-Insyirah:1-8).
Sebagai hamba Allah yang secara fitrah memiliki kelebihan dan kekurangan, manusia membutuhkan sejumlah hal baru, kegembiraan dan rangsangan tertentu dalam hidup. Seseorang dapat mengalami berbagai ketidakpastian, kecemasan dan tekanan yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu, menjadi berhasil dalam mencapai sejumlah keinginan dan cita-cita. Kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian dan memotivasi diri dapat membantu meningkatkan pencapaian tertentu dan pengembangan diri. Gejala ini disebut eustress yang berarti stres baik yang berdampak positif (awalan eus dalam bahasa Yunani berarti baik) di mana kita mampu mengatasi tuntutan, tantangan dan kondisi tekanan yang kita hadapi sebagaimana dimaksud ayat di atas bahwa kesulitan itu disertai kemudahan.
Namun bila tuntutan-tuntutan tersebut sampai kepada titik di mana seseorang merasakan kegagalan atau kehilangan kemampuan untuk mengatasinya, maka situasi tersebut kemudian dikenal sebagai dystress yang berarti stres buruk yang berdampak negatif (awalan dy berarti buruk). Dalam kondisi demikian seseorang cenderung merasa kewalahan dan kehidupan terasa di luar kendali karena kecemasan berlebihan, rasa takut, kepanikan, kebingungan dan kecenderungan putus asa menghantui dirinya yang justru berakibat kebuntuan, ketumpulan, kemandulan dan kontra produktif. Bukankah Allah mengarahkan hambanya dalam hal ini dengan firman-Nya “dan hanya kepada Rabbmu lah hendaknya kamu berharap” Dialah Yang Maha Kuasa atas segalanya, selalu mengajarkan optimisme kepada manusia untuk tegar, bangkit bergairah penuh harapan akan pertolongan-Nya dan melarang stres yang mengantarkan kepada keputusasaan. (QS. Yusuf: 87, Al-Isra’: 83)

Stres menurut Vincent Cornelli, seorang psikolog ternama merupakan suatu gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan dan dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu dalam lingkungan tersebut. Dan secara spesifik stres merupakan gejala psikologis yang menurut Richard Lazarus, psikolog yang banyak melakukan penelitian tentang stres sebagai sebuah hubungan khusus antara seseorang dengan lingkungannya yang dianggap melampaui kemampuan dan membahayakan kebahagiaan dan kepuasannya. Atau singkatnya merupakan gejala yang timbul akibat kesenjangan (gap) antara realita dan idealita, antara keinginan dan kenyataan, antara tantangan dan kemampuan, antara peluang dan potensi.
Hakikatnya stres merupakan gejala harian yang wajar dan setiap orang pasti mengalaminya dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi ia tak ubahnya seperti tantangan lainnya yang harus dihadapi dalam hidup. Oleh karena itu stres bukan untuk ditakuti melainkan justru kita harus berani mengatasinya dengan pengelolaan dan pengendalian stres dengan sikap dan mental positif yaitu dihadapi dengan kepala tegak (saya tidak takut menghadapinya), percaya diri (saya bisa mengatasinya); optimisme solusi (apa yang harus saya lakukan terhadapnya); pengendalian (saya akan mengendalikannya), penerimaan (stres memang bagian hidup yang alamiah), perencanaan (bagaimana saya akan mengatasinya), dan dengan bantuan pihak lain jika memang diperlukan.

Menurut sebuah penelitian dari data faktual menunjukkan hampir mayoritas orang tidak tahu bagaimana menangani stres padahal bila dikelola dengan baik dapat menjadi motivator dan energi hidup, namun stres yang berlebihan juga berpotensi melemahkan yang mana pada tahap tertentu dapat menurunkan efektivitas kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap penyakit ringan seperti flu dan infeksi di samping dapat menjadi penyebab tekanan darah tinggi, sakit kepala, diare, gangguan pada pencernaan dan pembuangan serta kelainan dan penyakit lainnya yang sering disebut sebagai gejala Phsycomatis. Kita sendiri sepenuhnya bertanggung jawab terhadap bagaimana stres mempengaruhi diri sebagaimana dimaklumi bahwa jika aspek-aspek kehidupan tidak ditangani dengan manajemen yang baik, maka akan mudah mengalami gejala-gejala stres.

Dalam manajemen stres gejala-gejala stres sangat penting pada tahap pertama untuk dapat disadari dan dilakukan identifikasi sedini mungkin sebelum terlambat yaitu dapat kita lakukan dalam daftar periksa dengan memakai peringkat mulai dari tidak pernah sama sekali; kadang-kadang; cukup sering; sangat sering; terus menerus secara konstan. Pemeriksaan tersebut menurut para psikolog biasanya mencakup aspek:
1. Perilaku/tindakan (menurunnya kegairahan/bete, pemakaian obat penenang, atau minuman penambah vitalitas yang berlebihan, meningkatnya konsumsi kopi, kekerasan atau tindakan agresif pada keluarga atau lainnya, gangguan pada kebiasaan makan, gangguan tidur (insomnia), problem seksual, kecenderungan menyendiri, membolos, tidak waspada)
2. Proses Sikap/Pikiran (pemikiran irasional dan kesimpulan bodoh, lamban dalam pengambilan keputusan ataupun kesimpulan, kecenderungan lupa dan penurunan daya ingat (amnesia), kesulitan berkonsentrasi, kehilangan perspektif, berfikir vatalis, negatif, apatis, cuek dan serba skeptis, menyalahkan diri, pikiran selalu was-was dan perasaan kacau, bingung, dan putus asa.)
3. Emosi/perasaan (cepat marah dan murung, cemas/takut/panik, emosional dan sentimentil berlebihan, tertawa gelisah, merasa tak berdaya, selalu mengkritik diri sendiri dan orang lain secara berlebihan, pasif, depresi/sedih berkepanjangan atau sangat mendalam dan merasa diabaikan)
4. Fisik/fisiologis (sakit kepala dan sakit lainnya pada kepala, leher, dada, punggung dan lain-lain, jantung berdebar, diare/konstipasi/gangguan buang air besar, gatal-gatal, nyeri pada rahang dan gigi gemertak, kerongkongan kering, pusing kepala, sering buang air kecil dan perubahan pola makan, badan berkeringat tidak wajar)

Setelah itu sangat penting itu ditelusuri dan dideteksi faktor-faktor penyebab stres untuk dapat mengendalikan stres dan mempertahankannya hanya pada tingkat yang dapat merangsang dan memotivasi, bukan merugikan. Faktor-faktor penyebab stres dapat kita temukan pada sumber-sumber stres yang meliputi pekerjaan, anak-anak, keluarga, kesehatan, keuangan, kesenangan dan kemasyarakatan. Lebih kongkretnya, bidang-bidang kehidupan yang menjadi sumber utama penyebab stres potensial dapat kita deteksi sebagai berikut:
1. Kerja/belajar/tugas-tugas rumah tangga (cenderung tidak punya waktu, terlalu banyak ataupun sedikit yang harus dilakukan, terlalu banyak tugas dan terlalu sedikit pengendalian, tidak mendapatkan ucapan terima kasih atau dihargai, tidak menyukai atasan, bawahan ataupun rekan kerja, tidak punya cukup keterampilan untuk menyelesaikan pekerjaan, kurang tantangan atau kebanyakan, tidak ada tujuan dari apa yang dilakukan, menyangsikan apakah sesuatu yang dijalani merupakan keinginan, terpaku pada pola perfeksionis yang berlebihan dan kaku).
2. Keluarga (Merasa tidak punya keluarga dekat, merasa terbuang atau tersisihkan dari keluarga, merasa keluarga menyita banyak waktu, terlalu banyak tanggungan keluarga, jarang memiliki suasana kebersamaan keluarga, anggota keluarga sakit, lokasi tinggal tidak ideal, kekerasan mewarnai keluarga, keuangan keluarga memprihatinkan, kekhawatiran terhadap keluarga)
3. Masyarakat/teman/komunitas (tidak cukup banyak teman, kurang bergaul dan sosialisasi, tidak memiliki teman dekat yang dapat dipercaya dan tempat curhat)
4. Karakter personal/kepribadian (tipe selalu gelisah, tertekan, khawatir dan merasa tidak aman/terancam, tidak melatih dan mengelola diri secara teratur, merasa tidak memiliki fisik dan kondisi kejiwaan yang baik, sulit tertawa dan kurang rasa humor, tidak menyukai diri sendiri, kurang keseimbangan diri, cenderung agak sinis, pesimis, dan menginginkan yang terburuk, sulit termotivasi dan sebagainya)

Mengkaji sumber potensial stres dan berbagai gejalanya dapat menyadarkan kita pentingnya pengendalian stres yang pada gilirannya akan memunculkan pertanyaan apakah stres memang dapat dikendalikan? Persoalan yang sesungguhnya adalah apakah kita mau atau tidak menjadi pengendali stres yang efektif dengan memiliki peran kepemilikan dan pengendalian terhadap stres dan membuang jauh-jauh mental kalah dan cenderung pasif memilih peran korban stres. Padahal banyak hal yang dapat kita lakukan untuk penyembuhan diri, pengembangan diri dan pertolongan diri serta make up diri dari dalam yang lebih menjanjikan kebahagiaan dan mengantarkan kita kepada kesehatan rohani serta menjadi insan berkarakter shalih dengan terapi mental secara ketat, pelatihan diri secara keras dan penumbuhan motivasi mandiri.
Nabi SAW sebagai figur teladan dan sosok manusia berjiwa besar saja dalam rangka pengendalian stres sampai berjuang keras melalui doa sekaligus evaluasi harian setiap pagi dan sore yang berlindung kepada Allah dan selalu mawas dari delapan pangkal penyakit mental yang sumber stres yakni; obsesi/pikiran yang mengganggu (hamm) dan kesedihan (huzn), ketidakberdayaan (‘ajz) dan kemalasan/ kurang motivasi (kasal), kekikiran (bukhl) dan ketakutan (jubn), problem keuangan (ghalabat dain) dan tekanan orang lain (qohrir rijal).
Manajemen stres dengan metode pengembangan karakter efektif dapat dilakukan melalui pengendalian stres secara efektif dari ajaran Nabi tersebut yang dapat dipetik di antaranya berupa pembebasan diri dari pikiran yang mengganggu (hamm) dengan merubah pola berfikir irasional dengan berfikir rasional dan mengefisienkan sikap mental yang boros atau menguras emosi dan energi. Agar dapat efisien, kita harus berusaha melatih agar sikap dan mental kita bersifat Fleksibel yaitu tidak hanya menggunakan satu sudut pandang saja dalam melihat berbagai kejadian dan peristiwa, Adaptif (terbuka secara selektif), Rasional (gabungan argumentatif antara realisme dan idealisme), Positif (itikad, niat dan tekad kuat dan baik disertai keyakinan) dan berorientasi Solusi (tidak suka meratap dan mengeluh tetapi mencari jalan keluar yang terbaik). Sikap mental yang efisien ini dikenalkan ahli psikologi dalam manajemen kepribadian dengan sikap FARPS.

Beberapa cara berfikir yang menyimpang harus diluruskan untuk mengendalikan stres di antaranya;
- Filter (melihat dunia dengan kacamata kuda yang gelap dan satu sudut yang cenderung membesar-besarkan hal yang negatif dari sebuah situasi dan mengabaikan sisi positif ataupun hikmahnya),
- Generalasi yang tidak proporsional dengan cepat menyimpulkan pukul rata secara umum tanpa merinci,
- Fatalis yang melihat peristiwa dengan nuansa kiamat dan malapetaka,
- Emosional, merasa selalu benar, menyalahkan pihak lain dan diri sendiri tanpa bertanggung jawab, selalu mengukur dengan kacamata seharusnya dan semestinya seperti “kamu harus memahami saya, mengerti posisi saya”, “semestinya ia bersikap baik terhadap saya”,
- Sindrom Martir (pengorbanan) dengan harapan segala pengorbanan mendapatkan balasan, namun ketika tidak mendapatkan akan merasa kecewa dan menderita. Oleh karena itu Allah melarang kita untuk mengharapkan sesuatu timbal balik yang bersifat duniawi dari jasa, pengorbanan dan kebaikan kita dalam bentuk apapun agar tidak stres (QS.Al-Mudatsir:6)
Ada sepuluh keyakinan rasional yang dapat kita rumuskan dengan mengacu kepada nilai-nilai Islam untuk mengatasi 10 keyakinan irasional yang ditemukan oleh Dr. Albert Ellis, psikolog kondang Amerika yang terkenal dengan terapi emotif rasionalnya yaitu;
1. Saya harus dicintai dan disukai oleh orang-orang yang penting dalam hidup saya. Jika tidak demikian, saya mungkin akan merasa kecewa, tetapi saya dapat mengatasinya. Saya akan melakukan yang terbaik untuk mengembangkan dan mempertahankan tali cinta kasih, persahabatan serta hubungan baik.
2. Orang-orang yang ingin serba sempurna (perfeksionis) biasanya mempunyai kadar stres yang sangat tinggi, dan ini sama sekali tidak perlu. Sebab kita hanya perlu berusaha berbuat yang sebaik-baiknya semampu kita dan Allah akan menilai usaha kita secara sungguh-sungguh dan ikhlas.
3. Menghukum dan menyalahkan diri sendiri tidak akan cukup menyelesaikan masalah, melainkan harus memulai bertindak yang lebih konstruktif dan perbaikan yang berarti.
4. Berbuat yang terbaik bagi hidup dengan kesiapan mental untuk menerima kegagalan yang merupakan sunnatullah dan merupakan konsekuensi iman kepada takdir dengan penuh tawakal
5. Problem dapat muncul dari peristiwa di luar kontrol dan tak terelakkan, tetapi reaksi dan interpretasi terhadap peristiwa tersebut yang harus dikendalikan secara benar, positif dan konstruktif.
6. Kekhawatiran memang diperlukan namun tidak boleh membawa kepada kondisi yang merenggut banyak pikiran dan emosi sehingga menekan jiwa
7. Tekanan dalam hidup tidak dapat dihindarkan melainkan yang harus dicari adalah jalan keluar (solusi) dari situasi sulit dan menekan.
8. Percaya diri dan bergantung pada diri sendiri memang harus dibangun tetapi harus dibarengi dengan keyakinan pada kekuatan ilahi dan kesiapan mental untuk membutuhkan bantuan orang lain.
9. Ada beberapa problem yang sejak lama memang telah ada namun sikap yang harus dibangun adalah tidak boleh pasrah menyerah, melainkan tetap berfikir ke depan untuk memperbaiki dan mengatasinya.
10. Sikap emosional, sentimentil, afektif dan empatif terhadap orang lain tidak boleh menenggelamkan kita dalam kesedihan berlebihan yang menambah mudarat melainkan harus dibalikkan menjadi sebuah motivasi untuk memberikan manfaat dan bantuan kepada orang yang kita beri simpati.
Beberapa panduan ruhiyah dapat menjadi obat dan terapi yang cukup efektif untuk pengendalian stres di antaranya; perbanyakan shalat sunnah dengan khusyu’, menghayati dan mengambil wisdom asmaul husna (nama-nama mulia Allah), merawat kondisi bersuci, tadabbur al-Qur’an, kisah-kisah teladan dan success stories yang pernah terjadi setelah mengalami kegagalan, relaksasi jiwa dan kontemplasi dengan dzikir bebas dan tafakkur yang dapat dilakukan pula dengan pengolahan pernafasan, rekreasi, olahraga, manajemen istirahat yang baik, canda dan humor yang sehat, membaca buku dan ngobrol yang bermanfaat. Semuanya ini pernah dilakukan bahkan dianjurkan oleh Rasulullah saw.
Seorang yang berkepribadian shalih bukan yang tidak punya masalah dan tidak menghadapi atau lari dari stres dan masalah, melainkan orang yang justru mampu menghadapi masalah tanpa bermasalah baru dan mengatasi stres dengan baik, sebab segala peristiwa hidup merupakan ujian iman untuk menempa karakter manusia yang harus dihadapi sebagai bahan peningkatan kualitas diri dan bukan untuk dihindari. (QS. Al-Mulk: 2, Al-Ma’arij: 19)
Wallahu A’lam wa Billahit taufiq wal Hidayah.

7:36 AM | Posted in , | Read More »

Mengelola Keberhasilan & Kegagalan


Penulis terkenal Doug Hooper pernah mengatakan “You are what you think” dalam bukunya dengan judul yang sama dengan kesimpulan bahwa pendapat kita tentang ihwal diri kita termasuk menyangkut masalah keberhasilan dan kegagalan dari berbagai pencapaian hidup yang secara konsisten ada dalam benak kita itulah yang menjadi kenyataan untuk diri kita.
Hal senada diungkapkan pula oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People (1993) bahwa kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia apa adanya, melainkan sebagaimana kita adanya atau sebagaimana kita dikondisikan untuk melihatnya.
Seseorang dapat merasa selamanya hidup gagal dan mencap dirinya sendiri seakan terlahir dan sepantasnya untuk menjadi manusia sial, pecundang dan gagal. Demikian pula penilaian dan cara pandangnya terhadap segala hasil usaha dan pencapaian orang lain akan selalu gagal, negatif dan pokoknya mengecewakan. Hal itu lahir dari sikap diri negatif yang mendorongnya untuk melihat diri dan dunia luar dengan kacamata kuda yang gelap dan picik dari satu arah, sehingga hampir tak terlihat sisi pandang lain secara jernih sekalipun sebenarnya yang ia pandang adalah positif ataupun terdapat sisi dan unsur positif.
Dalam konteks ini, patut kita hayati hadits qudsi yang meriwayatkan titah Allah bahwa keputusan takdir-Nya terhadap garis hidup manusia tergantung bagaimana ia berfikir dan berprasangka tentang-Nya. John Maxwell dalam The Winning Attitude: Your Key to Personal Success (1993) dalam salah satu dari 6 teori dan aksioma tentang sikap menyimpulkan bahwa sikap sangat menentukan keberhasilan dan kegagalan mengacu para prinsip “slight-edge” Menurutnya, sikap kita apakah tetap sabar untuk mencapai tujuan atau cepat menyerah akan menentukan kita untuk sukses atau gagal (berhenti usaha).
Paul J Meyer pernah mengatakan bahwa 90 % orang-orang yang gagal sebetulnya belum tentu gagal, hanya saja mereka cepat menyerah. Sebagai ilustrasi rahasia sunnatullah sukses dan gagal ini dapat kita lihat pada fenomena air yang dimasak sampai mendidih. Air tidak akan mendidih meskipun telah mencapai 99,9 derajat celsius sebab air hanya akan mendidih pada 100 derajat celsius dan bukan pada 99,9 derajat meskipun hanya kurang 0,01 derajat celsius saja.
Dalam manajemen keberhasilan dan kegagalan, diperlukan seni menetapkan pola keberhasilan melalui proses yang terdiri dari lima langkah sebagaimana tips sukses yang ditawarkan Art Mortell dalam The Courage to Fail (1993) yaitu;
1. Tentukan atau kenali rasa takut yang melemahkan diri kita;
2. beritahu orang lain tentang sebab-sebab kebingungan Anda, yang dapat membantu membebaskan diri Anda dari rasa takut;
3. putuskan bagaimana kita bisa berhenti bila upaya kita menimbulkan kekecewaan yang sangat sampai kita yakin bahwa kita dapat mengendalikan situasi;
4. mulailah dengan perlahan-lahan sampai kita bisa menghadapi tantangan dengan baik dan mengurangi bahaya timbulnya kepanikan;
5. bayangkan diri kita sedang berada di tempat yang menyenangkan, sehingga rasa takut digantikan oleh emosi yang positif dan mampu menggunakannya untuk mendorong kreativitas.
Kalau kita memandang kegagalan diri dan orang lain di dunia ini sebagai sesuatu yang ‘gatot’ (gagal total), kiamat dan tamat riwayat, maka kita akan berhenti pada kegagalan dan tidak akan pernah melihat keberhasilan. Dalam hidup, yang dikenang orang bahkan yang kita ingat sebenarnya keberhasilan kita, dan bukannya pengalaman kegagalan kita. Mereka yang berhasil adalah yang mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dari batu-bata yang dilemparkan orang lain padanya. Jarang orang yang menyadari bahwa Isaac Newton pernah lemah prestasi belajarnya ketika di sekolah dasar, Henri Ford pernah gagal dalam bisnis dan bangkrut sebanyak 5 kali, Dale Carnegie pernah depresi dahsyat dan sempat terlintas untuk bunuh diri, Winston Churchill pernah tidak naik kelas enam, Abraham Lincoln pernah diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa sebagaimana Khalid bin Walid pernah dilengserkan Umar bin Khathab dari posisi komandan menjadi prajurit biasa, Nabi Yusuf sempat menjadi budak yang diperjualbelikan, dan Nabi Muhammad saw. pernah tidak berjaya pada perang Uhud, pernah terusir, dihina, terlukai dan tidak dihiraukan.
Keberhasilan merupakan bola salju yang bermula dari ukuran kecil yang terus bergulir untuk terus membesar. Cara kita menyikapi setiap pencapaian, hasil dan anugerah (nikmat) hidup adalah pola kita memperlakukan bola salju. Bila kita remehkan dan tidak kita hargai sehingga cenderung mengabaikannya, maka tidak akan tumbuh besar, bahkan justru akan mencairkan dan melenyapkannya. Itulah ekspresi jiwa dalam mensyukuri dan menghargai hasil betapapun adanya. Bukankah Nabi saw bersabda bahwa orang yang tidak pandai menghargai dan berterima kasih orang lain maka ia tidak akan dapat bersyukur kepada Allah. Beliau juga berpesan agar kita tidak meremehkan suatu kebaikan pun. (QS.An-Naml:19, 40, Ibrahim:7)
Hargailah proses dan usaha betapapun hasilnya untuk dapat meraih keberhasilan yang hakiki. Orang yang pandai bersyukur adalah orang yang pandai berterimakasih, dan orang yang pandai berterima kasih adalah orang yang pandai menghargai dan orang tidak akan dapat menghargai apapun bila tidak memahami, menyadari dan menghargai proses serta usaha. Karakter utama orang shalih adalah menggunakan akal pikiran untuk memahami proses (Ulul Albab) termasuk segala ciptaan Allah di semesta alam, sehingga segala ucapan, sikap dan komentarnya selalu positif, menyejukkan, memotivasi, membersitkan inspirasi, dan penuh kearifan. Refleksi spontan imani Ulul Albab berupa komentar “Rabana ma khalaqta hadza bathilan” (Ya Tuhan Kami, tidaklah apapun yang Engkau ciptakan ini sia-sia, Maha suci Engkau… QS. Ali Imran:191) sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap proses dan sumber kebaikan, apapun hasil takdir-Nya.
Tipe wanita yang pandai menghargai pencapaian suami bagaimanapun kondisinya sebagai bagian dari manajemen keberhasilan adalah Ummul Mukminin Khadijah. Di saat-saat Rasulullah merasa sangat cemas, kesepian, ketakutan, dan merasa ditinggalkan, maka Khadijah justru mengungkit sisi-sisi kebaikan sosial dan pencapaian moral Nabi saw yang begitu tinggi sehingga mampu membangkitkan kembali motivasi Nabi saw. Demikian pula tipe suami yang pandai menghargai istri adalah Rasulullah saw dimana beliau tidak pernah mencela makanan maupun masakan sebagai penghargaan terhadap proses usaha dan sumbernya yang Maha Pemberi. Beliau juga tidak mencela kondisi fisik istrinya Aisyah yang tidak langsing lagi sebagai penghargaan beliau terhadap usaha dan pengorbanan Aisyah untuk tetap setia menghibur dan mendampingi Nabi saw, sehingga beliau cukup menyiratkan pentingnya pemeliharaan tubuh melalui olahraga lari.
Di saat sahabat merasa gagal mempertahankan kualitas iman dan spiritualitas, Nabi saw memberikan penghargaan terhadap adanya kesadaran untuk merawat spiritualitas dan beliau memberikan motivasi bahwa kondisi keimanan seseorang memang fluktuatif sehingga dapat naik dan turun, naiknya dengan ketaatan dan turunnya dengan ketidakpatuhan. Namun sebaliknya di saat para sahabat merasa terlalu yakin dengan pencapaian dan prestasi amalnya, beliau mengingatkan bahwa surga tidak ditentukan oleh amal, melainkan murni karena rahmat Allah semata termasuk nasib beliau. Hal itu agar para sahabat tidak berhenti beramal sehingga Allah meridhai dan merahmati mereka.
Kata-kata bijak dan prinsip-prinsip kearifan yang menumbuhkan motivasi dan memacu inspirasi sangat diperlukan dalam seni manajemen keberhasilan dan kegagalan bagi diri dan orang lain. Kung-fu-tze pernah ditanya tentang apa yang akan dilakukan jika ia menjadi kaisar Cina. Tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Aku akan mendidik rakyatku dengan kata-kata yang penuh inspirasi, semoga dengan menggunakan kata-kata itu mereka akan menjadi generasi bangsa yang gagah perkasa.”
Keberhasilan perlu disongsong, dibangun dan dijaga sebagaimana kegagalan perlu diantisipasi, dihindari dan dilawan. Don Gabor dalam Big Things Happen (1997) memberikan 7 daftar pemeriksaan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun sukses yaitu;
1. tetap berusaha dan bekerja untuk membuat kemampuan ada lebih menonjol dari sebelumnya;
2. gunakan bakat Anda dalam banyak cara sedapat mungkin;
3. beri diri Anda kesan dan citra positif untuk mencapai tujuan;
4. cari manfaat dan hikmah dari keberhasilan Anda;
5. periksalah arsip tentang rencana dan program yang belum diselesaikan atau impian yang belum kesampaian;
6. masukkan sebanyak mungkin pengetahuan dari keberhasilan dan kegagalan Anda sebisa Anda;
7. dapatkan orang-orang yang bisa Anda ajak berbagi pengalaman dan pengetahuan Anda.
Orang tidak akan dapat menghargai setiap pencapaian, prestasi dan hasil diri sendiri maupun orang lain kalau tidak menyadari dan menghargai proses dan usaha serta mengingat Allah sebagai sumber segala karunia. Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah.

7:09 AM | Posted in , | Read More »

Sukses Jalan Terus


dakwatuna.com – Pada tahun 1923, sebuah kelompok kecil orang-orang terkaya di dunia bertemu di hotel Edgewater Beach di Chicago, Illionis. Pada saat itu, mereka mengendalikan uang lebih besar daripada jumlah uang yang dimiliki Amerika Serikat. Berikut ini adalah daftar nama mereka dan apa yang akhirnya terjadi pada mereka:

  • Charles Schwab: presiden perusahaan baja mandiri terbesar, mati dalam keadaan bangkrut
  • Arthur Cutter : spekulan tepung yang terbesar, mati di luar negeri dalam kondisi bangkrut
  • Richard Witney: direktur Bursa Saham New York, mati setelah dibebaskan dari penjara Sing-Sing
  • Albert Fall : anggota kabinet presiden Amerika Serikat, mendapat pengampunan dari penjara dan mati di rumahnya
  • Jess Livermore : investor terbesar Wall Street, mati bunuh diri
  • Leon Fraser : direktur Bank Penyelesaian Internasional, mati bunuh diri
  • Ivan Kreuger: kepala monopoli terbesar dunia, mati bunuh diri.
***
Banyak orang yang menganggap kesuksesan adalah memiliki banyak harta, popularitas, dan jabatan yang tinggi. Namun, contoh seperti di atas telah membuktikan bahwa tiga hal itu bukan jaminan kesuksesan. Kekayaan, ketenaran, dan kedudukan bukanlah kesuksesan itu sendiri. Ia hanya sarana untuk memperoleh sukses sebenarnya. Apakah sukses itu?
Dalam buku ini, Satria hadi Lubis mengajak kita mendefinisikan ulang makna kesuksesan. Dengan gaya penulisan yang mengalir dan argumentatif, ia mampu membawa kita pada definisi yang ia inginkan dan pada saat yang sama membuat kita mengangguk seorang diri isyarat menyetujui apa yang ia paparkan.
Menurutnya, Sukses adalah; keseimbangan hidup, memberikan manfaat bagi orang lain, proses mencapai cita-cita mulia, menikmati kemenangan-kemenangan, dan ‘akhir yang baik’. Jadi, hanya dengan lima indikator itulah manusia mencapai sukses hakiki.
Keseimbangan hidup sebenarnya berawal dari sunnatullah yang tidak bisa kita lawan, melainkan harus kita ikuti dan kita manfaatkan. Di antara indikator kesuksesan adalah keseimbangan hidup. Artinya, kita akan sukses jika mampu menjaga keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal. Keseimbangan internal memiliki empat dimensi; fisik, emosional, mental, dan spiritual. Maka, kita perlu menjaga kesehatan tubuh, perasaan yang bersih, pikiran yang jernih, dan kedekatan dengan Allah. Sedangkan keseimbangan eksternal terwujud jika kita telah memenuhi semua tuntutan peran kita. Satu orang bisa jadi memiliki banyak peran; sebagai ayah bagi anak-anaknya, sebagai suami bagi istrinya, sebagai warga dalam masyarakat, sebagai karyawan dalam tempat kerjanya, sebagai jundi dalam jamaah dakwahnya. Orang yang hidupnya seimbang melayani semua peran dalam hidupnya dengan baik.
Indikator sukses yang kedua adalah memberikan manfaat bagi orang lain. Jika kita selalu memberikan manfaat bagi orang lain berarti hidup kita telah sukses. Semakin banyak manfaat yang kita berikan kepada orang lain berarti kita semakin sukses. Inilah makna hadits Nabi: “Khairun naas anfauhum lin naas”. Dan inilah bentuk mulia dari aktualisasi diri yang merupakan kebutuhan tertinggi manusia dalam diagram Maslow.
Sukses juga berarti perjalanan menuju cita-cita mulia. Tidak peduli apakah kita berhasil mencapainya atau tidak, selama kita konsisten berada di atas jalan menuju cita-cita mulia berarti kita telah sukses dalam arti yang sebenarnya. Bukankah banyak nabi yang hidupnya menderita di dunia bahkan ada yang tidak memiliki umat seorang pun tetapi mereka termasuk sukses. Inilah makna “malaazamul haq fii quluubina”. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kemuliaan di sini bukan bersumber dari perasaan subjektif manusia, tetapi ia diukur berdasarkan kebenaran universal, kebenaran yang bersesuaian dengan empat sumber: agama, hati nurani, akal sehat, dan ilmu pengetahuan. Kalaupun keempat hal tersebut saling bertolak belakang, maka agama menjadi batu uji terakhir untuk menentukan kebenaran universal.
Jika diteliti lebih lanjut, cita-cita mulia adalah cita-cita yang memenuhi kriteria: (1) tidak merugikan diri sendiri; (2) tidak merugikan keluarga; (3) tidak merugikan masyarakat; (4) tidak merugikan lingkungan alam; (5) tidak merugikan generasi pelanjut. Sedangkan perjalanan yang konsisten menuju cita-cita itu memiliki indikator: (1) pikiran dan orientasi yang selalu menuju pencapaian cita-cita; (2) prioritas kegiatan lebih banyak untuk mencapai cita-cita; (3) upaya mencapainya dilakukan dengan cara yang benar; (4) terus mencoba mencapai cita-cita walau gagal berulang kali; (5) perubahan cita-cita boleh dilakukan asalkan tidak bertentangan dengan kebenaran universal.
Indikator kelima dari kesuksesan adalah menikmati kemenangan. Seperti kehidupan Ibrahim bin Adham yang selalu taqarrub kepada Allah dan merasakan kenikmatan di dalamnya, maka ia pun berkata “Seandainya para raja dan sultan itu mengetahui betapa nikmatnya hidup yang aku jalani saat ini, niscaya mereka akan merebutnya walau dengan menggunakan pedang-pedang mereka”. Model menikmati kemenangan tentunya bukan dengan foya-foya dan hura-hura pasca kemenangan, tetapi menikmati kemenangan dilakukan dengan bersyukur atas kemenangan itu dan menggunakannya secara optimal di jalan kebajikan.
Indikator terakhir adalah ‘akhir yang baik’. Apalah artinya harta yang melimpah, popularitas yang glamour, dan jabatan yang tinggi tetapi berkesudahan dengan cara bunuh diri. Akhir yang baik adalah puncak kesuksesan. Orang yang berhasil mencapainya akan dikenang masyarakat sebagai orang yang sukses, dan memiliki tiket ke surga.
Bagian kedua buku terbitan Pro You Yogyakarta ini kemudian mengupas 7 Rahasia Manusia Sukses. Rahasia itu adalah: (1) Mulai dari orientasi, sehingga kita memiliki orientasi menuju kesuksesan sejati yang memiliki 5 indikator di atas; (2) Bersaing dengan diri sendiri, sebab jalan kesuksesan akan mudah kita lalui ketika kita mampu membawa diri kita sendiri dengan kesadaran penuh berupaya mencapai kesuksesan, dan hambatan terbesar manusia untuk memperoleh kesuksesan memang bukan siapa-siapa melebihi dirinya sendiri; (3) Mendobrak kemalasan, mengalahkannya dan membuatnya menyerah sehingga tidak menjadi tembok penghalang bagi kita untuk bergerak dan berbuat menggapai cita-cita; (4) menikmati dunia, menikmati setiap proses yang kita jalani dan tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan kita merasa berat dan merasa kalah sebelum ‘berperang’; (6) Kerendahan hati, tidak malu belajar dari orang lain, tidak malu mengakui kebenaran yang datang dari orang lain dan tidak sombong ketika beberapa tahapan kesuksesan telah kita miliki; (7) Memberikan warisan bermakna, bukan semata kesuksesan untuk dirinya tetapi kesuksesan itu merupakan karya yang bertahan lama, yang bisa diwarisi oleh generasi berikutnya.
Keistimewaan buku ini, seperti juga buku-buku karangan Satria hadi Lubis yang lain, adalah pada penjelasan dan contoh serta kiat yang diberikan pada beberapa bahasan yang dipandang perlu. Misalnya pada rahasia ketiga “mendobrak kemalasan”. Selain itu juga ada petunjuk praktis, seperti pada bahasan “menuju cita-cita mulia”. Di sana disertakan lembar sasaran dan dua form lain yang perlu diisi untuk mempermudah kita mempraktekkan teori dalam pembahasan tersebut.
Tentu saja, membaca tulisan ini tidak “senikmat” membaca bukunya secara keseluruhan. Buku ini sudah beredar di banyak toko buku sejak awal Februari lalu. Dan, tampaknya orang-orang yang menginginkan kesuksesan perlu untuk segera membacanya! [Muchlisin]

7:04 AM | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Labels

Recently Commented

Recently Added